Mohammad Jailani Diseminasikan Model Sekolah Ramah Anak Berbasis Humanis Religius, Soroti Pendampingan ABK
YOGYAKARTA — Pengembangan model Sekolah Ramah Anak (SRA) berbasis humanis religius menjadi fokus diseminasi inovasi pendidikan yang dipaparkan Mohammad Jailani, mahasiswa Program Doktor (S-3) Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan. Kegiatan yang berlangsung di SD Muhammadiyah Kleco Unit 1 Yogyakarta pada Sabtu (17/10/2026) ini menjadi ruang pemaparan hasil inovasi pendidikan dalam penelitian disertasi sekaligus forum untuk memperoleh masukan dari pendidik terkait pengembangan model sekolah yang ramah anak, humanis, religius, dan transformatif.
Kegiatan diawali dengan pemaparan materi bertajuk Model Sekolah Ramah Anak Berbasis Humanis Religius dalam Pendidikan Transformatif di SD Yogyakarta, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan penyampaian saran dari peserta. Forum kemudian berlanjut melalui Focus Group Discussion (FGD) dan member checking terhadap hasil wawancara bersama informan atau peserta. Rangkaian tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk menyampaikan tanggapan, melakukan klarifikasi, serta memberikan masukan terhadap model yang dikembangkan dalam penelitian disertasi. Sebagaimana tampak pada gambar berikut ini
Salah satu isu yang mendapat perhatian dalam diskusi adalah mekanisme penanganan dan pendampingan anak berkebutuhan khusus (ABK). Peserta menilai aspek tersebut perlu menjadi perhatian dalam penyempurnaan model agar pelaksanaannya dapat lebih responsif terhadap kebutuhan anak. Pembahasan ini memperkaya perspektif mengenai penerapan prinsip sekolah ramah anak, terutama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang menghargai keberagaman karakteristik, potensi, dan kebutuhan setiap peserta didik.
Selain aspek pendampingan ABK, peserta turut mengusulkan penguatan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan, antara lain Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah. Masukan tersebut menggarisbawahi pentingnya dukungan lintas lembaga agar pengembangan model sekolah ramah anak memiliki arah yang lebih terstruktur dan sistematis. Usulan kemitraan ini menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk pengembangan lebih lanjut, bukan penanda bahwa kerja sama dengan lembaga-lembaga tersebut telah terbentuk. Salah satu bentuk tahapan model sekolah ramah anak sebagaimana tampak pada berikut ini:

Hal menarik lainnya adalah pertukaran pengalaman mengenai program Sekolah Ramah Anak antara pendidik dari SD Muhammadiyah Kleco Yogyakarta dan SD Islam Al Azhar 31 Yogyakarta. Kedua sekolah berbagi informasi mengenai program dan praktik yang dijalankan di lingkungan masing-masing. Pertemuan tersebut membuka ruang pembelajaran bersama di antara dua sekolah dengan karakteristik berbeda, sekaligus memperkaya diskusi mengenai peluang penerapan prinsip sekolah ramah anak dalam konteks pendidikan dasar.
Bagi Mohammad Jailani, masukan peserta, diskusi kelompok, proses member checking, dan pertukaran praktik antarsekolah menjadi bagian penting dalam memperoleh perspektif lapangan untuk menyempurnakan model yang dikembangkan. Melalui proses tersebut, gagasan sekolah ramah anak berbasis humanis religius tidak hanya dibahas pada tataran konseptual, tetapi juga didiskusikan dalam kaitannya dengan kebutuhan dan tantangan praktik pendidikan di sekolah dasar.
Diseminasi ini menegaskan pentingnya dialog antara pengembangan gagasan akademik dan pengalaman praktis para pendidik. Penguatan sekolah ramah anak berbasis humanis religius diharapkan dapat terus dikembangkan melalui refleksi, masukan pemangku kepentingan, dan pertukaran praktik baik, sehingga nilai kemanusiaan, religiusitas, dan penghargaan terhadap kebutuhan setiap anak dapat menjadi bagian yang semakin bermakna dalam penyelenggaraan pendidikan dasar.




